Logo Kabupaten Aceh Besar dan Biografi Lengkap

Logo Kabupaten Aceh Besar

 

Kabupaten Aceh Besar adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Sebelum pemekaran pada akhir tahun 1970-an, ibukota Kabupaten Aceh Besar adalah Kota Banda Aceh. Setelah Kota Banda Aceh berpisah menjadi kotamadya tersendiri, ibu kota kabupaten tersebut dipindahkan ke Jantho di Pegunungan Seulawah. Kabupaten Aceh Besar juga merupakan tempat kelahiran Cut Nyak Dien, seorang pahlawan nasional dari Lampadang.

 

Geografi

 

Wilayah Aceh Besar memiliki luas wilayah sebesar 2.969,00 km² dan memiliki jumlah penduduk sebanyak 407.775 jiwa. Wilayah ini berbatasan dengan Kota Banda Aceh di sebelah utara, Kabupaten Aceh Jaya di sebelah barat daya, dan Kabupaten Pidie di sebelah selatan dan tenggara.

 

Aceh Besar juga memiliki wilayah kepulauan, yaitu wilayah Kecamatan Pulo Aceh. Bagian kepulauan Kabupaten Aceh Besar di sebelah barat, timur dan utara dibatasi oleh Samudera Indonesia, Selat Malaka dan Teluk Benggala, yang memisahkannya dari Pulau Weh, tempat kota Sabang berada. Pulau-pulau utamanya adalah Pulau Breueh dan Pulau Nasi.

 

Secara geografis, sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh Besar terletak di hulu Sungai Krueng Aceh. Saat ini kondisi tutupan lahan adalah 62,5% (menurut data citra landsat tahun 2007). Kawasan ini merupakan rumah bagi Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda yang merupakan bandara internasional dan salah satu pintu gerbang untuk masuk ke Provinsi Aceh. Pulau Benggala, pulau paling barat dari wilayah Republik Indonesia merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Besar.

 

Kebudayaan

 

Kabupaten Aceh Besar terkenal dengan salah satu makanan khasnya yaitu Bolu manis ala Aceh yang terkonsentrasi di kabupaten Peukan Bada. Bolu ini terkenal dengan cita rasanya yang khas. Selain itu ada juga gulai kambing (kari), ayam tangkap, dan sie rebuh (daging rebus) dan asam keu eung (asam pedas )yang terkenal kelezatannya.

 

Wisata Sejarah

 

  • Rumah Cut Nyak Dhien. Tempat ini awalnya adalah kediaman Cut Nyak Dhien. Di dalamnya berisi kumpulan sejarah Aceh yang dikelola dan dirawat oleh Pemerintah Daerah Aceh Besar. Hanya bagian pondasi saja yang asli dari bangunan ini, sedangkan yang berdiri sekarang ini merupakan hasil renovasi dari bangunan yang sebelumnya dibakar oleh Belanda.
  • Masjid Tua Indrapuri. Masjid ini terletak sekitar 25km selatan Medan dan dapat dicapai dengan sarana transportasi apapun. Wilayah Indrapuri dulunya merupakan kerajaan Hindu dan merupakan tempat peribadatan sebelum Islam. Kemudian, Sultan Iskandar Muda memperkenalkan Islam kepada masyarakat. Dan setelah seluruh masyarakat memeluk Islam, tempat ibadah yang dulunya pura berubah menjadi masjid. Bangunan masjid ini berdiri di atas tanah seluas 33.875 m², terletak di ketinggian 4,8 meter di atas permukaan laut dan sekitar 150 meter dari tepi Sungai Krueng Aceh.
  • Kuta Indra Patra. Benteng ini terletak ± 19 km dari Banda Aceh arah ke Krueng Raya, dekat pantai Ujong Batee. Secara historis, dibangun pada masa pra-Islam di Aceh, yaitu pada masa Kerajaan Hindu, Indra Patra. Namun, ada sumber bahwa benteng ini dibangun pada masa Kesultanan Aceh Darussalam untuk menahan serangan Portugis. Benteng ini sangat fungsional pada masa Sultan Iskandar Muda, dimana armadanya terkenal kuat di Asia Tenggara.
  • Makam Laksamana Malahayati, berjarak sekitar 32 km dari kota Banda Aceh. Dia adalah laksamana wanita pertama di dunia modern yang memimpin armada Laut pada masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.
  • Perpustakaan Kuno Tanoh Abee, terletak di desa Tanoh Abee di kaki Gunung Seulawah, Aceh Besar. Perpustakaan Tanoh Abee terletak di Kompleks Dayah Tanoh Abee yang didirikan oleh keluarga Fairus, yang mencapai puncaknya pada masa pimpinan Syekh Abdul Wahab yang dikenal dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee. Ia meninggal pada tahun 1894 dan dimakamkan di Tanoh Abee. Pengumpulan naskah Dayah Tanoh Abee dimulai dari Syekh Abdur Rahim, kakek dari Syekh Abdul Wahab. Naskah terakhir ditulis pada masa Syekh Mohammed Sa’id, putra Syekh Abdul Wahab yang meninggal di Banda Aceh pada tahun 1901 di bawah tahanan Belanda.
  • Rumoh Teunun Nyak Mu, adalah sentra produksi tenun asli Aceh di Gampong Siem, Mukim Siem, kecamatan Darussalam. Lokasi ini berjarak 12 km sebelah timur kota Banda Aceh. Rumoh Teunun Nyak Mu memproduksi aneka kain tenun Aceh dengan beragam motif Aceh yang khas.

 

Wisata Alam

 

  • Pantai Lhok Nga
  • Pantai Lam Pu’uk
  • Pantai Ujong Batee
  • Pantai Lhok Me
  • Air Terjun Suhom, Lhoong
  • Air Terjun Kuta Malaka
  • Air Terjun Peukan Biluy
  • Waduk Keuliling
  • Taman Hutan Rakyat Po Cut Meurah Intan
  • Pusat Latihan Gajah Saree
  • Gunung Seulawah Agam
  • Cagar Alam Jantho
  • Pemandian alam di Brayeun Leupung
  • Pantai Lhok Seudu

You May Also Like